Sejarah Valentine’s Day - LEGENDA ST. VALENTINE

Valentine adalah seorang pendeta yang hidup di Roma pada abad ke-III. Ia hidup di kerajaan yang saat itu dipimpin oleh Kaisar Claudius yang terkenal kejam. Ia sangat membenci kaisar tersebut. Claudius berambisi memiliki pasukan militer yang besar, ia ingin semua pria di kerajaannya bergabung di dalamya. Pada abad ke-3, Kaisar Romawi Claudius II menganggap pernikahan tidak baik untuk perang karena pria ingin tinggal di rumah bersama istri mereka, jadi dia melarang pernikahan.
Sejarah Valentine’s Day - LEGENDA ST. VALENTINE
Ketika kita memikirkan Hari Valentine kita cenderung memikirkan cokelat, cinta, dan hadiah, namun kebanyakan kita tidak tahu bahwa Hari Valentine berakar pada sebuah festival kesuburan Romawi kuno yang disebut Lupercalia. Itu adalah festival yang merayakan awal musim semi, kesuburan, nenek moyang, dan cinta. Dari tanggal 13 sampai 15 Februari, orang-orang Romawi merayakan pesta Lupercalia. Orang-orang itu mengorbankan seekor kambing dan seekor anjing, lalu mencambuk wanita dengan kulit binatang yang baru saja mereka bunuh. lihat juga: menjadi selebgram di instagram Para imam kuno akan mengorbankan seekor kambing dan kemudian berjalan mengelilingi daerah kota Roma, dengan ringan mengetuk perempuan di jalan dengan potongan kulit kambing yang direndam darah. Tidak ada yang mengira ini aneh, karena ini adalah undangan untuk semangat nenek moyang untuk menjelma kembali melalui siklus kelahiran kembali dan memastikan kesuburan. Pada akhir hari gadis-gadis lajang akan menuliskan nama mereka…

About the author

Halo semua apa kabar, panggil saja aku Zaramozzoe aku sangat suka sekali berbagi setitik kebahagian untuk kalian.jangan lupa follow ya .. 'just do it' :)blog yang aku kelola:- Zaramozzoe.store- Zaramozzoe- koreadramanews- viralterbaru- sepat…

2 comments

  1. $cocoper6
    Menarik dari cuplikan kisahnya, ketika terperanjat, kata "alhamdulillah" jadi sebuah ungkapan syukur yang universal :p

    Ketika seorang romawi, nasrani bersyukur dengan cara yang berbeda, karena rasa syukur semua tertuju pada Dia Yang Esa.
    1. zaramozzoe
      alhamdulillah... namo buddhaya philosophia